Selasa, 23 September 2014

Petunjuk Merawat Orang Sakit, aksara Jawa, th.1917.

Buku dengan judul "Serat Pitedah Bab Pamoelasaraning Tijang Sakit" ini dalam aksara Jawa dan menggunakan bahasa Jawa halus (krama). Artinya 'Petunjuk Merawat Orang Sakit'.
Namun untuk memudahkan memilih atau untuk segera mengetahui buku ini maka di cover belakang ditambahkan judul buku ini menggunakan huruf biasa/latin. Lihat gambar bawah kanan.
Sedang cover depan, judulnya menggunakan aksara Jawa (gambar atas kiri), kalimat paling atas menyebutkan harga dan ongkos kirim lewat pos f 0.60.
Buku karya Dr.C.D. ouwehand dan D.J. Siahaija ini di 'bahasa Jawa kan' oleh R. Djajasoedira di Betawi. Dicetak di Batavia oleh N.V. Papyrus pada th. 1917.

Gambar-gambar dibawah ini adalah sebagian dari gambar ilustrasi di dalam buku.

Senin, 22 September 2014

Sukarno, Autobiografie door Cindy Adams, 1965.(SOLD)

"SUKARNO, Autobiografie opgetekend door Cindy Adams"

Buku ini adalah Autobiografi Bung Karno oleh Cindy Adam dalam bahasa Belanda dan buku ini termasuk langka. Yang banyak adalah versi bahasa Ingris dan bahasa Indonesia.
 Tentunya buku ini sangat menarik bagi para kolektor untuk menambah koleksinya.




Dibawah ini beberapa gambar yang dimuat dalam buku.
Diatas gambar pada masa perjuangan untuk merdeka.
Gambar kiri bawah pada saat proklamasi kemerdekaan dan gambar kanan adalah masa Indonesia merdeka.

'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' itulah judul buku dalam versi bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Major Abdul Bar Salim dan diterbitkan oleh Gunung Agung pada th. 1966.

Rabu, 20 Agustus 2014

JAVA, Brieven, betreffende het Bestuur der Kolonien, th. 1816. (SOLD)

Sebuah buku yang sudah berusia nyaris 200 tahun, berisi surat-surat Pimpinan Kolonial Belanda.
Penerbitnya, Johannes van der Hey di Amsterdam, pada th. 1816.

Gambar atas adalah 3 halaman lampiran, ada puisi Shakpeare (kanan), dalam lampiran pertama ada sumpah/janji HW Daendels waktu diangkat jadi Gubernur Jendral Nederland Indie (tengah) dan cerita pendek sehubungan dengan Hunian Campong Baroe di Buitenzorg (kanan).

Sedang dibawah ini adalh gambar 3 halaman terakhir dari buku ini yaitu hlm. 262, 263 dan 264.

Buku ini berukuran 14 x 21 (covernya), 264 halaman, pernah diperbaiki oleh pemilik sebelumnya, sayang cara memperbaikinya agak kurang rapi, halamannya tidak rata, halaman depan (titel buku) dan halaman terakhir ditempel-tempel dengan kertas.
Perbaikan dan penggantian covernya juga sudah lama, sudah ada (sedikit) lubang bekas dimakan kutu.

Tapi memang buku sudah berusia dua abad, masih bisa diselamatkan saja sudah bersyukur banget.

Senin, 18 Agustus 2014

Jan Pieterzoon Coen, Bescheiden Omtrent Zijn Bedrijf In Indie.

"Jan Pietersz. Coen, Bescheiden Omtrent Zijn Bedrijf In Indie" 
terjemahan bebasnya
'Uraian Singkat Kegiatan Yan Pieterzoon Coen di Nederland Indie'.
Yang ditampilkan dibawah ini adalah jilid yang ke III, 1062 halaman, 20 x 29 cm, diterbitkan oleh 'Kononklijk Instituut Voor De Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie', dicetak di 's-Gravenhage, th. 1921.
Bagi rakyat Indonesia yang sudah mengenal sejarah, nama Jan Pieterszoon Coon (JP Coen) pasti sudah mengenalnya.
JP Coen adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan dua kali jabatan pertama pada th.1619 - 1623 dan jabatan ke dua pada th. 1627 sampai 1629 meninggal pada saat Batavia diserbu Mataram atas perintah Raja Mataram yaitu Sultan Agung yang bergelar Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama.

Pada awal dia menjabat sebagai Gubernur Jendral (1619) dia merebut Jayakarta dan mendirikan Batavia disana.
Pada th. 1621, JP Coen juga melakukan pembantaian ribuan orang Banda karena orang-orang Banda tidak mau dagangannya dimonopoli oleh Belanda.

Buku yang jilid ke III ini berisikan :
1. Brieven (1621-1623)
2. Resolutien der Volgende Lichamen of Verganderingen
- Aanteekeningen
- Register der Persoonamen
- Aanteekeningen of net Register der Persoonamen
- Register der Plaats en Volknamen
- Register der Schepen
- Drukfouten en Verbeeringen


Gambar diatas buku ini lengkap dengan jaketnya, sedang gambar bawah, buku tanpa jaket.

Saat ini kami ada jilid II sampai jilid VII.

Minggu, 22 September 2013

Oei Tiong Ham, Sang Konglomerat Raja Gula dari Semarang. (SOLD)

 Sudah banyak tulisan mengenai Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang, baik di koran, majalah maupun internet.

Dibuku ini berisi kisah Oei Tiong Ham, mulai dari Ayah Ibunya, Oei Tjie Sien (gambar bawah), sampai ke anak2nya Oei Tiong Ham, yang meneruskan kerajaan usahanya.

 Pabrik gula umumnya dipunyai oleh pemerintah Hindia Belanda, tapi Oei Ting Ham mempunyai lima pabrik gula, PG Krebet di Malang, PG Rejo Agoeng di Madiun, PG Tanggulangin, PG Pakis dan PG Ponen. dll.


Dibawah ini gambar2 Oei Tiong Ham bersama Isteri (yang pertama dan kedua), anak dan cucunya.

Dibawah gambar Mayor Oei Tiong Ham dan sebelah kirinya daftar lengkap keluarga termasuk nama2 isteri dan nama anak2nya.

Buku setebal 222 halaman, berukuran 15 x 24 cm ini ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Liem Tjwan Ling, pada th.1979.

Jumat, 26 Juli 2013

Model Eksekusi , Pujangga Amir Hamzah.

Amir Hamzah, pujangga, penyair terkenal, mendapat perhargaan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975.
Diangkat menjadi Wakil Pemerintah Indonesia untuk Langkat berkedudukan di Binjai, 29 Oktober 1945, namun nasib tragis menghadangnya, 20 Maret 1946 tewas dieksekusi pada Revolusi Sosial di Sumatera Timur. Dia dianggap feodalis hanya karena dia keturunan raja.
Sudah banyak kisah Amir Hamzah dimuat dibuku dan di internet, bahwa dia meninggal karena dieksekusi, tapi baru dalam buku yang diunggah kali ini, jelas bagaimana cara dan siapa pelaku eksekusi.
Judulnya "Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah"

Didalam buku ini dimuat pengakuan dari sang algojo  bernama Mandor Ijang Widjaja bahwa dialah yang memancung Amir Hamzah dan kemudian Amir Hamzah dikuburkan dalam satu lubang berisi 8 orang.

Diatas sebelah kanan adalah gambar Mandor Ijang Widjaja, dihalaman sebelah kiri menerangkan bahwa dia mengeksekusi Amir Hamzah pada tg. 20 Maret 1946, antara pk. 02.00 - 05.00 subuh. Mandor dihukum 20 tahun. tapi dia meninggal pada 15 Juni 1954.

Gambar diatas menernagkan bahwa Mandor Ijang sebenarnya adalah anak buah yang disayang Amir Hamzah.
Sedang gambar dibawah adalah lubang tempat Amir Hamzah dipancung di Kuala Bergumit, setelah kuburan dibongkar pada th. 1949. 

Rabu, 24 Juli 2013

Majalah Chattoelistiwa, nomer percobaan, September 1939. (Sold).

Ini majalah jaman dulu, tiga perempat abad yang lalu, 'Majalah Chattoelistiwa', dummy nummer atau nomer percobaan bulan September 1939, diterbitkan oleh perserikatan "Setia Bondjol", persatuan orang Bonjol yang merantau ke Medan.
Mungkin karena daerah asalnya (Bonjol) terletak di garis katulistiwa maka majalahnya diberi nama 'Chattoelistiwa', kalau ejaan sekarang 'Katulistiwa'.
Isinya diantaranya "Berita Kampoeng" (lihat gambar atas), maksudnya tentu agar orang2 yang merantau selalu ingat kampung halamannya.

Tapi, walaupun nomer percobaan, sudah banyak yang pasang iklan, diantaranya seperti tampak pada gambar atas.