Tampilkan postingan dengan label buku sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2015

Sejarah Pergerakan Indonesia 1929 - 1930. Sold.

Dibawah ini adalah buku yang menceritakan awal pergerakan menuju kemerdekaan. Dimulai saat terjadi perdebatan di 'Volksraad' 
Sebetulnya buku "Sedjarah Pergerakan Indonesia" terdiri dari 3 jilid.
Buku ini Jilid I, berisi Pembicaraan di 'Vloksraad' (bahasa Belanda) yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa 'Indonesia' pada jaman itu. 
 Penerjemahnya adalah :
H. O. S. Tjokroaminoto.

Gambar-gambar atas adalah halaman "Berita Pendahoeloean" oleh 
Pengoeroes Fonds Nasional. 
Gambar kanan terdapat nama-nama pengurus 'Fonds Nasional', 
silahkan 'klik' gambarnya agar terbaca lebih jelas.
Fonds Nasional adalah sebuah badan yang menerbitkan buku-buku cerita perjalanan mengejar cita-cita suci, Indonesia Merdeka. (Wikipedia)

Gambar-gambar bawah adalah teks awal pembicaraan dari "Motie Koesoemo Oetoyo c.s", topiknya 'tentang tidak aman hai penduduk negri' (gambar kiri).
Gambar kanan adalah teks awal pembicaraan 'Toean Kie Wiet De Jonge", Wakil Pemerintah Boeat Perkara Oemoem.

Gambar bawah kiri adalah awal teks dari Thamrin (M.H. Thamrin), sedang gambar kanan adalah teks perdebatan yang dilakukan oleh Thamrin dengan para wakil pemerintah (Belanda) 

Gambar bawah adalah halaman terakhir Jilid I.

Buku ini terdiri dari 128 halaman dengan ukuran 15.5 x 24 cm, diterbitkan oleh : 
Fonds Nasional di Jacatra pada th. December 1930.

Rabu, 20 Agustus 2014

JAVA, Brieven, betreffende het Bestuur der Kolonien, th. 1816. (SOLD)

Sebuah buku yang sudah berusia nyaris 200 tahun, berisi surat-surat Pimpinan Kolonial Belanda.
Penerbitnya, Johannes van der Hey di Amsterdam, pada th. 1816.

Gambar atas adalah 3 halaman lampiran, ada puisi Shakpeare (kanan), dalam lampiran pertama ada sumpah/janji HW Daendels waktu diangkat jadi Gubernur Jendral Nederland Indie (tengah) dan cerita pendek sehubungan dengan Hunian Campong Baroe di Buitenzorg (kanan).

Sedang dibawah ini adalh gambar 3 halaman terakhir dari buku ini yaitu hlm. 262, 263 dan 264.

Buku ini berukuran 14 x 21 (covernya), 264 halaman, pernah diperbaiki oleh pemilik sebelumnya, sayang cara memperbaikinya agak kurang rapi, halamannya tidak rata, halaman depan (titel buku) dan halaman terakhir ditempel-tempel dengan kertas.
Perbaikan dan penggantian covernya juga sudah lama, sudah ada (sedikit) lubang bekas dimakan kutu.

Tapi memang buku sudah berusia dua abad, masih bisa diselamatkan saja sudah bersyukur banget.

Senin, 18 Agustus 2014

Jan Pieterzoon Coen, Bescheiden Omtrent Zijn Bedrijf In Indie.

"Jan Pietersz. Coen, Bescheiden Omtrent Zijn Bedrijf In Indie" 
terjemahan bebasnya
'Uraian Singkat Kegiatan Yan Pieterzoon Coen di Nederland Indie'.
Yang ditampilkan dibawah ini adalah jilid yang ke III, 1062 halaman, 20 x 29 cm, diterbitkan oleh 'Kononklijk Instituut Voor De Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie', dicetak di 's-Gravenhage, th. 1921.
Bagi rakyat Indonesia yang sudah mengenal sejarah, nama Jan Pieterszoon Coon (JP Coen) pasti sudah mengenalnya.
JP Coen adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan dua kali jabatan pertama pada th.1619 - 1623 dan jabatan ke dua pada th. 1627 sampai 1629 meninggal pada saat Batavia diserbu Mataram atas perintah Raja Mataram yaitu Sultan Agung yang bergelar Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama.

Pada awal dia menjabat sebagai Gubernur Jendral (1619) dia merebut Jayakarta dan mendirikan Batavia disana.
Pada th. 1621, JP Coen juga melakukan pembantaian ribuan orang Banda karena orang-orang Banda tidak mau dagangannya dimonopoli oleh Belanda.

Buku yang jilid ke III ini berisikan :
1. Brieven (1621-1623)
2. Resolutien der Volgende Lichamen of Verganderingen
- Aanteekeningen
- Register der Persoonamen
- Aanteekeningen of net Register der Persoonamen
- Register der Plaats en Volknamen
- Register der Schepen
- Drukfouten en Verbeeringen


Gambar diatas buku ini lengkap dengan jaketnya, sedang gambar bawah, buku tanpa jaket.

Saat ini kami ada jilid II sampai jilid VII.

Jumat, 26 Juli 2013

Model Eksekusi , Pujangga Amir Hamzah.

Amir Hamzah, pujangga, penyair terkenal, mendapat perhargaan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975.
Diangkat menjadi Wakil Pemerintah Indonesia untuk Langkat berkedudukan di Binjai, 29 Oktober 1945, namun nasib tragis menghadangnya, 20 Maret 1946 tewas dieksekusi pada Revolusi Sosial di Sumatera Timur. Dia dianggap feodalis hanya karena dia keturunan raja.
Sudah banyak kisah Amir Hamzah dimuat dibuku dan di internet, bahwa dia meninggal karena dieksekusi, tapi baru dalam buku yang diunggah kali ini, jelas bagaimana cara dan siapa pelaku eksekusi.
Judulnya "Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah"

Didalam buku ini dimuat pengakuan dari sang algojo  bernama Mandor Ijang Widjaja bahwa dialah yang memancung Amir Hamzah dan kemudian Amir Hamzah dikuburkan dalam satu lubang berisi 8 orang.

Diatas sebelah kanan adalah gambar Mandor Ijang Widjaja, dihalaman sebelah kiri menerangkan bahwa dia mengeksekusi Amir Hamzah pada tg. 20 Maret 1946, antara pk. 02.00 - 05.00 subuh. Mandor dihukum 20 tahun. tapi dia meninggal pada 15 Juni 1954.

Gambar diatas menernagkan bahwa Mandor Ijang sebenarnya adalah anak buah yang disayang Amir Hamzah.
Sedang gambar dibawah adalah lubang tempat Amir Hamzah dipancung di Kuala Bergumit, setelah kuburan dibongkar pada th. 1949. 

Selasa, 22 Mei 2012

Trem Listrik di Jawa. ( Sold )





 
Jaman sekarang yang namanya 'trem', sistem angkutan penumpang jalan diatas rel, menggunakan tenaga listrik maupun tenaga uap, yang menjadi andalan untuk angkutan perkotaan kala itu, sudah tidak ada, walaupun yang mirip ada, misalnya angkutan kereta rel listrik yang digunakan untuk angkutan Jabotabek.
Sebelum Indonesia merdeka, perusahaan2 dibawah kolonial Belanda, membangun angkutan perkotaan diberi nama 'tram' biasa disebut oleh masyarakat dengan 'trem' , baik menggunakan tenaga listrik maupun tenaga uap.
Cerita mengenai trem tertulis pada buku disebelah ini yang berjudul "Trams en Tramlijnen" berbahasa Belanda, dihiasi dengan gambar2 stasiun dan trem di Jakarta dan Surabaya, pada saat awal hingga saat buku ini ditulis.  
Gambar berikut adalah sebagian dari 45 gambar yang menghiasi buku ini.


Disebelah ini gambar trem listrik di Jakarta berlokasi ujung jalan Asemka didekat Stasiun Kota.

Gambar disebelah adalah kereta khusus untuk para pedagang yang membawa barang dagangan dan pikulannya.

Gambar disamping adalah trem jalur 1, di kantor gubernur Surabaya saat itu.

Disamping adalah kereta tram listrik jalur 3 di titik awal, Tunjungan, Surabaya, diambil gambarnya pada Juni 1933.


Terlihat pada gambar samping kereta sedang melewati daerah Tanah Abang Bukit.







Disebelah gambar trem uap, diambil gambarnya pada 30 September 1933 didepan kantor BVM, sebuah perusahaan yang mengoperasikan beberapa jalur trem diantaranya jalur Glodok, Harmoni, Kramat sampai Meester.

Terjual.

Senin, 28 Februari 2011

Atjeh. Sold.


Buku berjudul "ATJEH" ini penulisnya adalah H.C. Zentgraaff,
mantan tentara Belanda beralih profesi menjadi wartawan.
Salah satu bab yang diceritakan dlm. buku ini adalah pengejaran Tgk Di Barat,
salah satu Panglima Perang, seorang Ulama yang menentang Belanda.
Tgk Di Barat tewas, syahid, satu peluru bersama isterinya.
"Ulama terkemuka di Aceh lebih memilih mati syahid
dari pada menyerah kepada Belanda" tulis HC. Zentgraaff







Buku ini diterbitkan oleh 'Koninklijke Drukkerij De Unie', Batavia, tanpa tahun, dengan ukuran 23 x 32 cm, 303 halaman, dilengkapi denga foto2 menarik.

Selasa, 01 Februari 2011

Aceh Dimata Kolonialis, Snouck Hurgronje. SOLD

Dr. C. Snouck Hurgronje (1857 - 1936), seorang ilmuwan menjadi Penasehat terhormat kaum Kolonialis Belanda dan musuh nomor wahid bagi rakyat Indonesia.
Abd. al Gaffar adalah nama samarannya ketika menyamar sebagaim muslim untuk mempelajari Islam di Jedah dan mekah tahun 1884-1885. Pengetahuan yg didapatkan kemudian menjadi landasan untuk menindas perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialis Belanda, terutama terhadap Aceh.



Buku yang terdiri dari 2 jilid (1985) ini adalah terejemahan 'The Achehnese' (1906) edisi bahasa Inggris dari 'De Atjehers' (1893-1894) karangan Snouck Hurgronje.


Buku 'Aceh Dimata Kolonialis' , diterjemahkan oleh Ng. Singarimbun, diterbitkan oleh Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1985, terdiri dari 2 jilid (502 dan 447 halaman) ditambahkan puluhan gambar2 menarik dihalam belakang setiap jilidnya, ditambah lagi 'Peta Aceh' seperti dalam gambar dibawah ini.

Bagi yang berminat, silahkan.
Maaf sudah terjual.